Langsung ke konten utama
Alasan

Aku belum saja menemukan alasan
Melarikan hati ini dari perjalanan hidupmu
Membunuh rasa hebatku yang aku pun
Tak andil menumbuhkannya
Tak ada andil untuk itu

Aku masih saja mencari alasan
Untuk sekedar tak melihatmu sebagai cinta
Melalui detikku yang kian berselang dengan menanti
Melewati malam yang sepi menepi
Dengan balutan mimpi yang kian meninggi
Bukankah itu kesalahan terbaik
Yang masih saja ku nikmati

Sekali ini semua berlalu begitu melekat
Meski sekali lagi kian memekat pekat
Ketika senyum pun tak sempat menghampiri hatimu
Ataukah itu sebuah alasan terbaikku
Untuk menyertakkan kaulah yang hanya di sini
Di hati yang terlampau dalam

Masih bertanya tentang sebuah alasan
Aku berjalan di sekeliling hatimu dan mencari jalan
Sungguh tetaplah berjalan di hidupmu
Hanya saja aku yang menantimu dengan segenap hati kecilku
Sungguh pun kini tak ada lagi alasan
Kecuali cinta
Kecuali cinta                                                       19 april 2012


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OGP Bojonegoro, Catatan Prestisius dari Kota Kampung.             Tulisan ini berangkat dari hasil riset selama satu semester di tahun 2017. Peneliti mengawali langkah di Pendopo Malowopati pada hari Jumat siang, akhir bulan Maret lalu.        Riuh rendah dialog antar warga dan pejabat pemerintahan Kab. Bojonegoro menjadi ritual mingguan sejak Kang Yoto dan kang Hartono terpilih di Pilkada 2008. Mulai dari kritik tajam soal kebutuhan akses pendidikan, kesehatan, tata ruang dan persoalan publik lainnya sampai sanjung-menyanjung antara warga dan pemimpin daerahnya, yaitu Kang Yoto. Hampir tidak ada prosedur yang membatasi gerak sikap dan ucap setiap warga yang ingin berbicara langsung dengan pejabat pemerintahan, baik itu SKPD maupun bupati. Kompleks pendopo kabupaten yang agung, megah dan sarat filosofi antropologi “jonegoro” seakan menjadi arena warung kopi yang sarat dengan egalitarianisme. M...
Modal Posisi dan Ekspektasi Peran Politik Kaum Milenial Di antara beberapa variabel yang bersinggungan dengan momen politik elektoral di tahun 2018-2019 adalah soal posisi dan peran politik kaum milenial. Identitas milenial merujuk pada sebuah generasi yang terlahir di rentang tahun 1980-1997 (Straus & Howe: 1991,200). Inilah barisan anak-anak muda yang memiliki tradisi sosio-kultural yang berkelindan dengan demokrasi dan kemajuan teknologi informasi-komunikasi (TIK). Lantas, bagaimana posisi dan peranan politik kaum milenial saat ini, khususnya dalam menghadapi tahun politik 2018-2019? Setidaknya ada tiga modal dasar menjawab pertanyaan besar tersebut. Pertama, generasi anak muda selalu memiliki sosio-historis yang patriotik.  Gerakan kaum muda selalu menjadi pelopor revolusi politik di Indonesia. Mulai kelahiran gerakan organisasi kebangsaan tahun 1908-1928, integrasi politik primordialis ke dalam pakta kebangsaan Indonesia dalam Sumpah Pemuda 1928, peristiwa Rengasden...